Kumpulan gambar vektor

IP

IP

Cari Ini

Senin, 30 Juli 2012

MOTIVASI


PENGERTIAN MOTIFASI
Motivasi  ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertidak melakukan sesuatu. (Purwanto, 2007: 60). Motifvasi atau motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengerahkan tinggah laku atau perbuatan ke suatu tujuan tertentu. Setiap individu memiliki suatu motivasi atau motif terhadap sesuatu, termasuk juga seorang siswa. Seorang siswa juga memilki suatu motif tertentu didalam proses pendidikan selain motivasi dalam belajar.
Di dalam proses pendidikan motivasi adalah salah satu syarat mutlak siswa untuk belajar.  Motivasi juga berperang sebagai motor penggerak dalam proses balajar Motivasi belajar merupakan motor penggerak yang mengaktifkan siswa untuk melibatkan diri. (Winkel, 1996: 166).Pada umumnya suatu motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Tujuan (goal) adalah yang mementukan atau menbatasi tingkah laku organisme. Perangsang (inecentive) adalah fakta atau objek yang menarik organism tersebut.
Pengertian motif atau motivasi tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan (need). Suatu organisme (khusussnya siswa) yang berbuat atau melakukan sesuatu, setidak-tidaknya terdapat suatu kebutuhan di dalam dirinya atau sesuatu yang ingin dicapai. Istilah kebutuhan juga diartikan sebagai suatu kekurangan tertentu di dalam sesuatu organisme. Di dalam proses pendidikan kebutuhan yang dimiliki oleh siswa adalah suatu kebutuhan untuk dapat memahami dan mengerti materi atau pelajarang yang diberikan oleh seorang guru dan juga siswa memiliki kebutuhan akan motivasi atau dorongan yang menyebabkan siswa memiliki semangat dalam mengikuti setiap proses belajar. Dari Pergertian di atas , dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
Motivasi didefinisikan sebagai suatu komponen yang mengandung tiga aspek yaitu:
1.      Mengerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu memimpin seseorang untuk bertidak dengan cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam ingatan, respon-respon efektif, dan kecenderungan lainnya.
2.      Mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Tingkah laku siswa atau individu diarahkan terhadap suatu tujuan tertentu.
3.      Menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar dengan harus menguatkan intensitas dan arah dorongn-dorongan serta kekuatan-kekuatan individu.
SUMBER MOTIVASI
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999), terdapat beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, antara lain :
a. Cita-cita atau aspirasi siswa
Dari segi manipulasi kemandirian, keinginan yang tidak terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar, dari segi pembelajaran penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan dan kemauan menjadi cita-cita. Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama bahkan sampai sepanjang hayat. Cita-cita seseorang akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar.

b. Kemampuan siswa
Keinginan siswa perlu diikuti dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi siswa untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya.

c. Kondisi siswa
Kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, lelah atau marah akan mengganggu perhatiannya dalam belajar.

d. Kondisi lingkungan siswa.
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar.



e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan karena pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebaya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan alam, tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya seperti surat kabar, majalah, radio, televisi semakin menjangkau siswa. Semua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajarnya.

Menurut Wlodkowski dan Jaynes (2004), motivasi belajar dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :
a. Budaya
Setiap kelompok etnik mempunyai nilai-nilai tersendiri tentang belajar. Ibu-ibu kebangsaan Jepang lebih menekankan usaha (effort) daripada kemampuan (ability), dibandingkan dengan ibu-ibu kebangsaan Amerika yang mengutamakan penampilan sekolah yang baik. Sistem nilai yang dianut orang tua akan mempengaruhi keterlibatan orang tua secara mendalam dalam upaya-upaya untuk menanamkan energi si anak.

b. Keluarga
Faktor keluarga memberikan pengaruh penting terhadap motivasi belajar seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Benjamin Bloom terhadap sejumlah professional muda (28 tahun sampai 35 tahun) yang berhasil dalam karirnya dalam berbagai lapangan seperti pakar matematika, neurology, pianis, maupun olah ragawan, menunjukan ciri-ciri yang sama yaitu adanya keterlibatan orang tua mereka. Mereka menunjukan adanya keterlibatan langsung orang tua dalam belajar anak, mereka melihat dorongan orang tua merupakan hal yang utama di dalam mengarahkan tujuan mereka.

c. Sekolah
Peran guru dalam memotivasi anak juga tidak diragukan. Dibawah ini beberapa kualitas guru yang efektif dalam memotivasi anak, yaitu :
1. Guru selaku manajer yang baik.
2. Guru mengharapkan siswanya untuk menjadi murid yang sukses.
3. Guru memberikan bahan pelajaran yang sesuai dengan kapasitas muridnya.
4. Guru memberikan umpan balik bagi muridnya.
5. Guru memberikan tes yang adil.
6. Guru menjelaskan kriteria perilaku penilaiannya. Guru mau merangsang nalar anak.
7. Guru membantu anak untuk menyadari pertumbuhan kompetensi dan penguasaan murid.
8. Guru mampu bersikap empati. Guru menilai pengetahuan di atas nilai
TEORI TENTANG MOTIVASI

Barangkali salah satu cara untuk memahami konsep motivasi adalah melihat beberapa teori yang mewakili. Teori motivasi berupaya untuk memberikan beberapa prinsip-prinsip untuk memberi petunjuk pemahaman kita tentang dorongan, keinginan, kebutuhan, usaha, dan tujuan yan datang dari motivasi.
Ada 4 teori motivasi yang akan dijelaskan secara singkat, yaitu teori drive, teori insentif, teori oponen proses, dan teori tingkat optimum.

1 . Teori Kebutuhan dari Herzberg

  • Fisiologis needs : Kebutuhan pribadi
  • Safety & security needs : Kebutuhan akan rasa aman
  • Social & Belonging needs : Kebutuhan akan interaksi & kepemilikan
  • Self Actualition needs : Mengembangkan kemampuan diri dalam bekerja
2. Teori 2 Faktor dari Herzberg
  • Ekstrinsik ( dissatisfied ) : Rasa kurang puas seseorang dalam bekerja
  • Intrinsik ( Satisfied ) :
  • Responsibility : Tanggung jawab
  • Achievement : Prestasi
  • Work Self : Pekerjaan itu sendiri
  • Possibility To Growth : Kemungkinan untuk berkembang
  • Advancement : Kemajuan
3. Teori Prestasi dari Mc Celland
  • Need for achievement : Dibutuhkan untuk prestasi
  • Need for Affiliation : Dibutuhkan untuk persatuan
  • Need for power : Dibutuhkan untuk kekuasaan
4. Teori Harapan
Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.
Teori pengharapan mengatakan seorang dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, Suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi . Intinya , teori harapan adalah teori motivasi yang dilakukan dengan harapan akan mendapatkan suatu prestasi .
  • Effort Performance : Usaha untuk berprestasi
  • Performance Outcome : Hasil / prestasi
5. Teori Keadilan
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari yang sudah dikerjakannya .
6. Teori Human Relation
Teori motivasi yang menggambarkan seseorang akan bekerja lebih gigih jika merasa dibutuhkan , diperhitungkan dan dihargai .

7.                  Teori disonan kognitif atau cognitive dissonance theory (Festinger, 1957). Teori ini mengatakan bahwa orang akan mengalami ketegangan atau ketidaknyamanan apbila nilai atau keyakinan yang dipegang secara kuat tidak cocok dengan atau tertantang oleh keyakinan atau perilaku yang tidak konsisten secara psikologis. Untuk mengatasi ketidaknyamanan ini mereka dapat mengubah perilaku atau keyakinan mereka, atau mereka dapat mengembangkan pembenaran atau alasan yang mengatasi ketidakkonsistenan ini.

Implikasi teori disonan kognitif dalam pendidikan
Di dalam tatanan pendidikan, teori disonan kognitif sering berlaku pada saat siswa menerima umpan balik yang tidak menyenangkan atas kinerja akademik mereka. Sebagai misal, Tina biasanya mendapatkan nilai bagus tetapi kali ini mendapatkan nilai 50 untuk kuis tertentu. Nilai ini tidak konsisten dengan gambaran dirinya sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Untuk mengatasi ketidaknyamanan ini, Tina dapat memutuskan untuk belajar lebih giat lagi untuk meyakinkan bahwa lain kali ia tidak akan mendapatkan nilai yang rendah lagi. Di lain pihak ia bisa saja mencoba membenarkan nilai rendah itu dengan berbagai alasan: “Pertanyaan-pertanyaan kuisnya mengandung jebakan. Saya tidak sedang merasa sehat. Guru tidak memberi tahu terlebih dahulu akan adanya kuis. Saya tidak sungguh-sungguh mengerjakannya. Udaranya terlalu panas, “ dan berbagai alasan lainnya. Alasan ini akan membantu Tina mempertanggungjawabkan nilai 50 itu. Bila ia kemudian masih mendapatkan sederet nilai jelek lainnya, mungkin ia akan berkilah bahwa ia tidak pernah mengerjakan kuis mata pelajaran ini sejelek ini, atau guru itu pilih

8.                  Teori Kebutuhan Maslow, termasuk konsep aktualisasi diri yang ia definisikan sebagai keinginan untuk mewujudkan kemampuan diri atau “keinginan untuk menjadi apapun yang seseorang mampu untuk mencapainya.”. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humoris, dan mandiri—pada dasarnya, memiliki kesehatan mental yang bagus atau sehat secara psikologis. Maslow menempatkan perjuangan untuk aktualisasi diri pada puncak hierarki kebutuhannya, hal ini berarti bahwa pencapaian dari kebutuhan paling penting ini bergantung pada pemenuhan seluruh kebutuhan lainnya. Kesukaran untuk memenuhi kebutuhan ini di akui oleh Maslow, yang memperkirakan bahwa lebih sedikit dari 1 persen orang dewasa yang mencapai aktualisasi diri.

Implikasi Teori Maslow dalam Pendidikannya untuk belajar.

Pentingnya teori kebutuhan maslow dalam pendidikan terletak dalam hubungan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh. Jelas bahwa siswa yang sangat lapar atau yang dicekam bahaya akan memiliki energi psikologis yang kecil yang dapat dikerahkan. Dengan kata lain ia hampir tidak memiliki motivasi belajar. Sekolah dan lembaga pemerintahan menyadari bahwa apabila kebutuhan dasar siswa tidak dipenuhi, belajar akan terganggu. Dalam kondisi seperti ini, sekolah atau pemerintah dapat mengatasinya dengan menyediakan program makan pagi dan makan siang gratis.



Peran Guru dalam Proses Pendidikan
Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal dapat berperan sebagai :
1.      Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
2.      Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
3.      Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
4.      Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
5.      Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :
1.      Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
2.      Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
3.      Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
4.      Guru sebagai sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
1.      Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
2.      Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
3.      Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
4.      Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;
5.      Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
6.      Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
7.      Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Peran motivasi dalam proses pembelajaran,
motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap kefektifan usaha belajar siswa.
Pearan motivasi dalam pembelajaran diantaranya :
1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar